Brighton & Hove Albion memberikan salah satu kejutan terbesar di awal musim Premier League 2026/27. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Amex Stadium, The Seagulls secara meyakinkan menundukkan Arsenal dengan skor telak 3-0.
Hasil tersebut terasa semakin mengejutkan karena Arsenal datang ke pertandingan dengan status sebagai juara bertahan Premier League dan belum terkalahkan. Namun semua catatan positif tersebut tidak berarti banyak ketika berhadapan dengan Brighton yang tampil agresif sejak menit pertama.
Pascal Groß, Charalampos Kostoulas, dan Chema Andrés menjadi pencetak gol Brighton. Akan tetapi, di balik tiga gol tersebut terdapat sebuah rencana permainan yang ternyata jauh lebih sederhana daripada yang mungkin dibayangkan.
Fabian Hürzeler mengungkap bahwa ia tidak meminta anak asuhnya melakukan sesuatu yang terlalu rumit. Tidak ada formula rahasia dengan rangkaian taktik yang sulit dipahami.
Sebaliknya, Brighton diminta kembali kepada prinsip-prinsip dasar sepak bola.
Menang dalam duel pertama. Memenangi sundulan pertama. Memenangi tekel pertama. Mendapatkan lemparan ke dalam pertama. Memenangkan sepak pojok pertama.
Kedengarannya sederhana.
Namun justru pendekatan “old school” itulah yang membuat Arsenal kesulitan mengembangkan permainan mereka di Amex.
Hürzeler Bongkar Rahasia di Balik Kemenangan 3-0
Berbicara kepada talkSPORT, Hürzeler menjelaskan bahwa Brighton tidak terlalu sibuk memikirkan bagaimana Arsenal akan bermain.
Fokus utama sang pelatih adalah memastikan pemainnya sendiri tampil sesuai prinsip yang telah mereka bangun.
“Kami benar-benar fokus kepada diri kami sendiri. Kami ingin memenangkan pertarungan kecil terlebih dahulu,” kata Hürzeler.
Menurutnya, “pertarungan kecil” tersebut mencakup hal-hal yang sering kali dianggap sepele dalam sepak bola modern.
Brighton harus memenangkan sundulan pertama, tekel pertama, lemparan ke dalam pertama, hingga sepak pojok pertama.
Bagi Hürzeler, keberhasilan memenangkan duel-duel sederhana tersebut dapat menciptakan efek berantai.
Ketika satu pemain memenangkan duel, kepercayaan dirinya meningkat. Rekan setimnya kemudian ikut mendapatkan keyakinan. Dari sana, Brighton bisa semakin berani menekan lawan dan mulai menciptakan peluang yang lebih besar.
“Ketika Anda memenangkan pertarungan kecil, para pemain mendapatkan kepercayaan diri, membangun keyakinan terhadap diri sendiri dan mulai benar-benar saling percaya,” jelas Hürzeler.
Itulah inti dari rencana Brighton.
Sederhana, tetapi dilakukan dengan intensitas tinggi.
Arsenal Tidak Diberi Kesempatan untuk Nyaman
Salah satu hal paling mencolok dalam pertandingan tersebut adalah bagaimana Brighton membuat Arsenal tidak pernah benar-benar nyaman.
Arsenal tetap memiliki penguasaan bola yang cukup besar. Namun penguasaan bola tersebut tidak otomatis membuat mereka mampu mengontrol pertandingan.
Brighton justru mampu mengontrol area-area penting ketika bola diperebutkan.
Bart Verbruggen dan rekan-rekannya berulang kali menggunakan bola panjang untuk mengarahkan permainan ke area yang memungkinkan mereka memenangkan duel kedua.
Pendekatan tersebut membuat lini belakang Arsenal harus menghadapi banyak situasi bola udara dan perebutan bola kedua.
Menurut laporan mengenai pertandingan tersebut, Brighton bahkan secara konsisten memanfaatkan distribusi panjang Verbruggen untuk menguji Gabriel dan Ezri Konsa dalam duel udara. Setelah bola jatuh, pemain Brighton sudah berada di sekitar area tersebut untuk merebut bola kedua dan kembali memberikan tekanan.
Dengan kata lain, Brighton tidak sekadar menendang bola jauh tanpa tujuan.
Ada struktur di baliknya.
Bola panjang digunakan untuk menciptakan jenis duel yang mereka inginkan.
“Rugby Tactic” Verbruggen
Pendekatan tersebut kemudian mendapat perhatian karena terlihat seperti sebuah “taktik rugby”.
Istilah itu digunakan oleh sejumlah laporan untuk menggambarkan keputusan Brighton mengurangi pembangunan serangan pendek dari belakang dan lebih sering memainkan bola langsung ke depan.
Verbruggen menjadi salah satu pemain penting dalam pola tersebut.
Alih-alih memaksakan diri memainkan bola pendek ketika Arsenal melakukan tekanan, penjaga gawang Brighton memiliki opsi untuk mengirim bola jauh ke wilayah pertahanan Arsenal.
Targetnya bukan semata-mata menciptakan peluang langsung.
Targetnya adalah memenangkan bola kedua.
Brighton kemudian bisa mempertahankan tekanan di wilayah lawan.
Strategi itu membuat Arsenal menghadapi situasi yang tidak selalu mereka inginkan.
Mereka harus berduel.
Mereka harus bereaksi cepat terhadap bola kedua.
Dan mereka harus memenangkan duel individu sebelum bisa kembali membangun serangan.
Hürzeler memang tidak menggunakan istilah “taktik rugby” dalam penjelasannya. Ia justru berbicara tentang prinsip memenangkan pertarungan kecil.
Namun kedua pendekatan tersebut memperlihatkan gambaran yang sama: Brighton sengaja menjadikan pertandingan sebagai rangkaian duel fisik dan perebutan bola yang intens.
Mikel Arteta Mengakui Arsenal Kalah dalam Pertarungan Awal
Mikel Arteta sendiri tidak berusaha mencari alasan setelah pertandingan.
Pelatih Arsenal tersebut mengakui Brighton memang layak mendapatkan kemenangan.
Menurut Arteta, salah satu masalah Arsenal sudah terlihat sejak awal pertandingan.
“Dari lemparan ke dalam pertama, Anda bisa merasakannya. Itu sangat jelas,” kata Arteta ketika menggambarkan bagaimana Brighton tampil lebih agresif sejak awal.
Pengakuan tersebut cukup menggambarkan keberhasilan strategi Hürzeler.
Brighton tidak perlu menunggu sampai pertandingan berkembang untuk menunjukkan intensitas mereka.
Mereka langsung mengirim pesan.
Duel pertama menjadi milik Brighton.
Tekel pertama menjadi milik Brighton.
Bola kedua menjadi target mereka.
Dan perlahan Arsenal mulai kehilangan kendali.
Ketika sebuah tim tidak mampu memenangkan duel-duel dasar seperti itu, permainan kombinasi yang biasanya menjadi kekuatan mereka juga bisa ikut terganggu.
Pascal Groß Menjadi Pemimpin di Lapangan
Salah satu pemain yang paling menonjol dalam kemenangan tersebut adalah Pascal Groß.
Gelandang veteran asal Jerman itu menjadi pencetak gol pembuka Brighton dan memainkan peran penting dalam cara timnya mengontrol pertandingan.
Menariknya, Hürzeler memberikan gambaran yang sangat positif mengenai Groß.
Sang pelatih bahkan membandingkan pemain berusia 35 tahun tersebut dengan anggur yang semakin baik seiring bertambahnya usia.
Bagi Hürzeler, pengalaman Groß menjadi salah satu aset penting.
Ia memahami kapan harus bergerak, kapan harus mempercepat permainan dan kapan harus mengambil posisi untuk membantu tim memenangkan bola.
Groß sendiri mengungkap bahwa sejumlah gol Brighton lahir dari tekanan tinggi dan perebutan bola di wilayah lawan.
Ia mengatakan Brighton mampu menciptakan banyak peluang karena tekanan tersebut.
Dengan kata lain, gol bukan hanya hasil dari serangan yang dibangun secara perlahan.
Sebagian peluang justru lahir karena Brighton berhasil merebut bola ketika Arsenal sedang berada dalam posisi tidak siap.
Tiga Gol dari Prinsip yang Sama
Jika melihat tiga gol Brighton, kita bisa melihat bagaimana pertandingan berkembang.
Gol pertama Pascal Groß memberikan Brighton keunggulan dan membuat atmosfer Amex semakin panas.
Kemudian Charalampos Kostoulas menggandakan keunggulan sebelum turun minum.
Arsenal memasuki babak kedua dalam posisi sulit.
Mereka membutuhkan gol cepat untuk kembali ke pertandingan.
Namun bukannya mampu memperkecil jarak, Arsenal justru kembali kebobolan.
Chema Andrés mencetak gol ketiga sebelum satu jam pertandingan berjalan.
Skor 3-0 membuat tugas Arsenal semakin berat.
Yang menarik, Brighton tidak perlu memainkan sepak bola yang rumit untuk mencapai kondisi tersebut.
Mereka memenangkan duel.
Mereka merebut bola.
Mereka memanfaatkan momentum.
Dan ketika peluang muncul, mereka menyelesaikannya.
Hürzeler Tidak Mau Menyebutnya Pertandingan Sempurna
Meskipun Brighton menang 3-0 atas juara bertahan, Hürzeler menolak menyebut penampilan timnya sebagai sebuah pertandingan sempurna.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa sang pelatih tidak ingin para pemainnya terjebak dalam euforia.
“Apakah itu pertandingan yang sempurna? Saya tidak akan mengatakan itu pertandingan yang sempurna. Masih ada hal-hal yang harus diperbaiki,” ujar Hürzeler.
Menurutnya, kemenangan atas tim besar tidak boleh menjadi sesuatu yang hanya terjadi sesekali.
Brighton memiliki ambisi lebih besar.
Mereka ingin menjadikan performa luar biasa seperti ini sebagai standar normal.
“Sekarang tantangan kami adalah membuat penampilan luar biasa ini menjadi sesuatu yang normal,” kata Hürzeler.
Kalimat tersebut menjadi salah satu bagian terpenting dari kemenangan Brighton.
Karena mengalahkan Arsenal sekali belum otomatis mengubah posisi Brighton dalam peta persaingan Premier League.
Yang jauh lebih sulit adalah mengulangi performa tersebut ketika menghadapi lawan berikutnya.
“Kami Ingin Menantang Establishment”
Hürzeler juga memiliki sebuah ungkapan yang menggambarkan ambisi Brighton.
Ia menyebut timnya ingin “challenge the establishment” atau menantang kelompok klub mapan di Premier League.
Namun menurut Hürzeler, tantangan tersebut tidak cukup dilakukan ketika Brighton menghadapi Arsenal, Manchester City, Liverpool atau tim besar lainnya.
Menantang establishment berarti mempertahankan standar tersebut ketika menghadapi lawan yang secara reputasi mungkin berada di bawah mereka.
“Menantang establishment bukan berarti menantang mereka dalam satu pertandingan. Anda harus menantang mereka ketika Anda tidak bermain melawan mereka. Kami harus konsisten dalam penampilan,” ujar Hürzeler.
Inilah ujian sebenarnya bagi Brighton.
Kemenangan atas Arsenal bisa menjadi sebuah pernyataan.
Tetapi konsistensi akan menentukan apakah pernyataan tersebut benar-benar memiliki arti besar.
Brighton Mulai Menunjukkan Identitas Hürzeler
Bart Verbruggen juga memberikan pujian kepada Hürzeler setelah kemenangan tersebut.
Menurut penjaga gawang Brighton itu, pertandingan melawan Arsenal memperlihatkan dengan sangat jelas prinsip-prinsip yang selama ini dibangun sang pelatih sejak datang ke klub.
Verbruggen menyoroti kemampuan Brighton memenangkan bola kedua, berada di depan lawan, memenangkan duel individu, mengontrol bola ketika memungkinkan, serta berganti antara permainan pendek dan panjang.
Pernyataan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa kemenangan atas Arsenal bukan sekadar hasil dari perubahan strategi satu pertandingan.
Ada proses yang lebih panjang.
Hürzeler ingin Brighton memiliki identitas yang fleksibel tetapi tetap agresif.
Mereka bisa bermain pendek.
Mereka bisa bermain panjang.
Mereka bisa menekan tinggi.
Mereka bisa memenangkan duel.
Dan mereka harus memiliki keberanian untuk terus memainkan gaya tersebut.
Arsenal Terjebak dalam Permainan Brighton
Dari sudut pandang Arsenal, masalah terbesar bukan semata-mata tiga gol yang bersarang di gawang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana Brighton berhasil membuat Arsenal memainkan pertandingan yang sesuai dengan keinginan tuan rumah.
Arsenal dikenal sebagai tim yang mampu mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola dan struktur posisi.
Namun melawan Brighton, mereka dipaksa menghadapi pertandingan dengan tempo dan intensitas berbeda.
Brighton ingin pertandingan menjadi keras.
Brighton ingin duel terjadi sesering mungkin.
Brighton ingin bola kedua menjadi penting.
Dan Brighton ingin pemain Arsenal merasa tidak nyaman setiap kali menerima bola.
Arsenal tidak sepenuhnya kehilangan penguasaan bola, tetapi penguasaan tersebut tidak menghasilkan kendali yang biasanya mereka miliki.
Di sinilah strategi Hürzeler bekerja.
“Old School” Bukan Berarti Ketinggalan Zaman
Istilah “old school” yang digunakan Hürzeler juga menarik.
Dalam sepak bola modern, taktik sering kali dikaitkan dengan formasi, build-up, pressing triggers, positional play, overload dan berbagai konsep teknis lainnya.
Namun Hürzeler justru mengembalikan fokus kepada sesuatu yang sangat mendasar.
Menang duel.
Berani berlari.
Mengejar bola.
Memenangkan perebutan bola kedua.
Tidak membiarkan lawan nyaman.
Secara teori, semua pelatih tentu menginginkan hal tersebut.
Namun tantangannya adalah membuat seluruh pemain melakukannya secara bersamaan selama pertandingan.
Brighton berhasil melakukannya saat menghadapi Arsenal.
Karena itu, “old school” yang dimaksud Hürzeler bukan berarti Brighton memainkan sepak bola kuno.
Justru prinsip sederhana tersebut dipadukan dengan struktur permainan modern.
Itulah yang membuatnya efektif.
Tantangan Berikutnya Jauh Lebih Berat
Kemenangan 3-0 membawa Brighton ke posisi ketiga klasemen Premier League dengan 10 poin setelah lima pertandingan dan memperpanjang rekor tidak terkalahkan mereka menjadi lima pertandingan. Arsenal sendiri kehilangan catatan sempurnanya setelah sebelumnya memenangkan empat laga beruntun.
Namun perjalanan musim masih sangat panjang.
Brighton harus membuktikan bahwa kemenangan besar ini bukan sekadar sebuah ledakan performa sesaat.
Hürzeler sendiri sudah menyadari hal tersebut.
Ia tidak ingin pemainnya hanya tampil luar biasa ketika menghadapi tim besar.
Ia ingin standar tersebut muncul setiap pekan.
Itulah sebabnya kemenangan atas Arsenal justru menjadi awal tantangan baru.
Jika Brighton mampu mempertahankan intensitas, memenangkan duel-duel kecil dan tetap disiplin menjalankan prinsip permainan mereka, maka tim ini bisa menjadi lawan yang semakin merepotkan bagi klub-klub papan atas.
Sebaliknya, jika intensitas menurun, strategi yang sama mungkin tidak menghasilkan dampak serupa.
Brighton Tidak Perlu Taktik Rumit untuk Membuat Sejarah
Pada akhirnya, kemenangan Brighton atas Arsenal menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu membutuhkan formula yang rumit untuk menghasilkan kejutan.
Kadang-kadang, sebuah tim hanya perlu bermain dengan keberanian, disiplin dan keyakinan terhadap prinsip yang telah mereka bangun.
Fabian Hürzeler meminta para pemainnya memenangkan pertarungan kecil.
Sundulan pertama.
Tekel pertama.
Lemparan pertama.
Sepak pojok pertama.
Hal-hal yang mungkin tidak masuk dalam highlight pertandingan.
Namun justru dari situlah Brighton membangun momentum.
Satu duel dimenangkan.
Kemudian duel berikutnya.
Kepercayaan diri tumbuh.
Tekanan meningkat.
Arsenal mulai kehilangan kendali.
Dan akhirnya, papan skor menunjukkan angka 3-0.
Itulah rahasia “masterplan kuno” Hürzeler.
Tidak ada sihir.
Tidak ada formula rahasia yang rumit.
Hanya sepak bola dasar yang dimainkan dengan intensitas luar biasa.
Kini Brighton memiliki tugas yang lebih sulit: membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan terhadap Arsenal bukan sekadar satu malam ajaib di Amex Stadium.
Hürzeler sendiri sudah memberikan jawabannya.
Brighton tidak sekadar ingin mengalahkan establishment dalam satu pertandingan.
Mereka ingin menantangnya secara konsisten.
Dan jika prinsip sederhana yang disebut “memenangkan pertarungan kecil” itu terus dijalankan dengan disiplin, Brighton bisa menjadi salah satu tim yang paling tidak nyaman untuk dihadapi sepanjang musim Premier League 2026/27.
