Mantan penjaga gawang Schalke 04, Ralf Fährmann, membuka kembali berbagai cerita menarik sekaligus kontroversial selama perjalanan panjangnya bersama klub asal Gelsenkirchen tersebut. Dalam biografinya yang berjudul Schalke und ich – eine Liebesgeschichte, Fährmann mengungkap sejumlah pengalaman yang sebelumnya tidak banyak diketahui publik.

Buku tersebut tidak hanya menceritakan perjalanan kariernya sebagai penjaga gawang Schalke, tetapi juga menggambarkan dinamika internal klub, persaingan dengan rival sekota Borussia Dortmund, kedekatannya dengan Manuel Neuer, hingga bagaimana hubungannya dengan Schalke berakhir dengan penuh kekecewaan.

Salah satu kisah paling menarik yang diungkap Fährmann berkaitan dengan pertandingan melawan Borussia Dortmund. Rivalitas Schalke dan Dortmund merupakan salah satu perseteruan terbesar dalam sepak bola Jerman. Bagi Fährmann, pertandingan menghadapi Dortmund bukan sekadar laga biasa, melainkan pertarungan yang memiliki makna emosional tersendiri.

Dalam bukunya, Fährmann menceritakan ritual yang biasa dilakukannya ketika Schalke bertandang ke Signal Iduna Park. Saat keluar ke lapangan untuk melakukan pemanasan, ia mengaku selalu meludah ke arah Südtribüne, tribun terkenal yang menjadi markas kelompok suporter Dortmund.

Fährmann menyebut tindakan tersebut sebagai semacam salam khusus kepada para pendukung Dortmund. Ia menggambarkan atmosfer di tribun selatan sebagai lingkungan yang sangat bermusuhan bagi pemain Schalke.

Bagi mantan kiper tersebut, ritual itu menjadi bagian dari cara dirinya membangun mental sebelum menghadapi pertandingan yang sarat rivalitas. Perseteruan Schalke dan Dortmund memang memiliki sejarah panjang, sehingga atmosfer pertandingan kerap terasa berbeda dibandingkan laga Bundesliga lainnya.

Namun, kisah Fährmann tidak hanya berkaitan dengan rivalitas antarklub. Ia juga mengungkap sisi lain Manuel Neuer ketika keduanya masih menjadi bagian dari skuad Schalke.

Neuer merupakan salah satu sosok penting dalam perjalanan Fährmann. Ketika Fährmann mulai masuk ke tim profesional Schalke, Neuer masih menjadi penjaga gawang utama. Fährmann bahkan memberikan pujian tinggi kepada mantan rekan setimnya tersebut dan menyebut Neuer sebagai pemain yang ikut mengubah cara pandang terhadap posisi penjaga gawang.

Meski kemudian dikenal sebagai salah satu kiper paling sukses di generasinya, Fährmann mengungkap bahwa Neuer pada masa mudanya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kelompok suporter Schalke.

Menurut Fährmann, Neuer tidak sekadar menikmati atmosfer stadion dari lapangan. Ia juga disebut beberapa kali berbaur dengan kelompok ultras Schalke. Bahkan, dalam situasi tertentu, Neuer pernah meninggalkan stadion menggunakan kereta yang digunakan para suporter, bukan bus tim.

Fährmann juga mengungkap bahwa Neuer pernah mengenakan atribut ultras di balik jersey penjaga gawangnya. Cerita tersebut memberikan gambaran mengenai kedekatan emosional Neuer dengan Schalke sebelum akhirnya ia meninggalkan klub untuk bergabung dengan Bayern Munich.

Kepergian Neuer kemudian membuka jalan bagi Fährmann untuk menjadi penjaga gawang utama Schalke. Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung mulus.

Setelah sempat menjalani masa peminjaman di Eintracht Frankfurt pada 2009 hingga 2011, Fährmann kembali ke Schalke dan diproyeksikan menjadi salah satu penjaga gawang penting klub. Cedera ligamen krusiat pada musim gugur 2011 sempat menghentikan perkembangannya.

Fährmann baru kembali merebut posisi utama pada akhir 2013. Ia kemudian mempertahankan tempat tersebut hingga awal 2019 sebelum situasinya berubah drastis di bawah pelatih Domenico Tedesco.

Fährmann mengingat dengan jelas momen ketika dirinya diberi tahu bahwa posisinya sebagai penjaga gawang nomor satu akan digantikan Alexander Nübel.

Menurut pengakuannya, ia sebenarnya merasa ada sesuatu yang tidak beres sebelum pertemuan tersebut. Namun, ia sama sekali tidak menyangka keputusan yang akan disampaikan kepadanya.

Tedesco kemudian memberitahunya bahwa Schalke akan melakukan pergantian penjaga gawang pada paruh kedua musim. Nübel akan menjadi pilihan utama.

Keputusan itu menjadi pukulan besar bagi Fährmann. Schalke bukan sekadar klub tempat ia bekerja. Ia telah bergabung dengan klub tersebut sejak usia 14 tahun setelah meninggalkan kampung halamannya di Chemnitz.

Karena itu, kehilangan posisi utama di klub yang sudah dianggap sebagai bagian dari hidupnya terasa sangat berat. Tidak lama kemudian, Fährmann dipinjamkan ke Norwich City dan selanjutnya menjalani masa peminjaman di Brann Bergen.

Ia kembali ke Schalke pada musim panas 2020. Setahun kemudian, Fährmann menjadi bagian dari skuad yang mengalami degradasi ke kasta kedua sepak bola Jerman.

Pengalaman di divisi kedua juga meninggalkan sejumlah cerita. Salah satunya berkaitan dengan pelatih Dimitrios Grammozis.

Fährmann mengenang bagaimana Grammozis pernah meluapkan kemarahan dalam sesi analisis setelah Schalke kalah 1-2 dari Fortuna Düsseldorf. Menurut Fährmann, ledakan emosi tersebut terasa tidak biasa karena skuad Schalke pada periode itu justru dikenal cukup tenang dan terdiri dari banyak pemain yang sudah berkeluarga.

Selain kisah para pelatih dan pemain, Fährmann juga menyinggung mantan direktur olahraga Schalke, Peter Knäbel. Ia menggambarkan Knäbel sebagai sosok yang kerap muncul secara tiba-tiba di lorong-lorong tempat latihan.

Fährmann bahkan menceritakan sebuah dugaan internal yang kemudian menjadi salah satu kisah paling unik dalam bukunya. Para pemain Schalke pernah berspekulasi bahwa Knäbel sengaja membiarkan pintu kantornya terbuka agar dapat mendengar percakapan mereka.

Yang lebih menarik adalah cerita mengenai jas Knäbel. Menurut Fährmann, jas tersebut sering ditemukan di berbagai tempat berbeda, mulai dari ruang fisioterapi, ruang ganti hingga ruang angkat beban.

Para pemain kemudian bercanda bahwa jas tersebut mungkin menjadi bagian dari cara Knäbel memantau percakapan mereka. Fährmann menyebut kisah tersebut sebagai gambaran mengenai hubungan yang terjadi antara pemain dan manajemen Schalke pada masa itu.

Namun, bagian paling pahit dalam cerita Fährmann adalah penghujung kariernya di Schalke.

Pada persiapan pramusim 2024, ia dipindahkan ke tim U-23. Hubungan antara pemain dan klub kemudian semakin memburuk. Kontrak Fährmann yang berakhir pada 2025 juga tidak diperpanjang.

Situasi tersebut membuat pemain yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama Schalke merasa diperlakukan sangat berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Fährmann mengaku kehilangan akses ke sejumlah fasilitas yang sebelumnya menjadi bagian dari rutinitasnya. Tempat parkir latihan tidak lagi tersedia untuknya. Ia juga tidak diperbolehkan menggunakan ruang ganti maupun fasilitas mandi tim utama.

Ia bahkan menggambarkan bagaimana dirinya harus berganti pakaian dalam kondisi yang menurutnya sangat jauh dari standar yang pernah ia rasakan sebagai pemain Schalke.

Laga terakhirnya bersama Schalke terjadi pada akhir Januari 2024 ketika klub kalah 1-4 dari Kaiserslautern. Secara keseluruhan, Fährmann mencatatkan 289 pertandingan kompetitif untuk Schalke.

Setelah mengakhiri kariernya pada musim semi 2026, Fährmann kini tinggal di Swiss. Meski demikian, keterikatannya dengan Schalke belum benar-benar berakhir.

Hubungan tersebut memang meninggalkan luka dan kekecewaan, tetapi rasa cintanya terhadap klub tetap bertahan. Fährmann mengaku masih mengikuti pertandingan Schalke melalui televisi dan berharap para pendukung mendapatkan kesuksesan.

Bagi Fährmann, perjalanan bersama Schalke mungkin berakhir dengan cara yang tidak ia harapkan. Namun, klub tersebut telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya sejak usia muda.

Karena itulah, di balik berbagai kritik, konflik, dan pengalaman pahit yang ia ceritakan, Fährmann tetap memiliki satu kesimpulan sederhana mengenai hubungannya dengan Schalke: ia masih mencintai klub tersebut.