Era baru Timnas Prancis resmi dimulai. Zinedine Zidane untuk pertama kalinya memimpin sesi latihan Les Bleus setelah ditunjuk sebagai pelatih baru, menggantikan Didier Deschamps yang sebelumnya memimpin Prancis dalam periode panjang.

Namun, bukan hanya taktik atau instruksi Zidane yang menjadi perhatian para pemain. Pada sesi latihan perdana di Clairefontaine, sang legenda justru kembali memperlihatkan kualitas teknis yang dahulu membuatnya menjadi salah satu pesepak bola paling dikagumi di dunia.

Dayot Upamecano menjadi salah satu pemain yang menyaksikan langsung aksi tersebut. Bek Bayern Munich itu tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat Zidane ikut terlibat dalam latihan teknik bersama para pemain.

Dengan nada bercanda, Upamecano mengatakan bahwa Zidane ternyata masih memiliki "sedikit sisa" kemampuan luar biasa yang membuatnya terkenal ketika masih menjadi pemain.

Bagi para pemain Prancis generasi sekarang, momen tersebut tentu memiliki makna khusus. Banyak dari mereka tumbuh dengan menyaksikan Zidane bermain untuk Real Madrid maupun Timnas Prancis.

Kini, sosok yang dahulu mereka kagumi melalui layar televisi justru berdiri di depan mereka sebagai pelatih.

"Saya pikir kami semua adalah penggemarnya ketika masih kecil. Jadi, ini sebuah kesenangan. Saya sangat senang bisa belajar darinya," kata Upamecano setelah sesi latihan perdana tersebut.

Zidane Memulai Era Baru di Clairefontaine

Sesi latihan pertama Zidane berlangsung di Clairefontaine pada Senin, 21 September 2026.

Tidak semua dari 23 pemain yang dipanggil langsung turun ke lapangan. Hanya 12 pemain yang mengikuti latihan di lapangan pada sesi awal karena sebagian pemain lainnya menjalani program pemulihan, perawatan medis, atau latihan di pusat kebugaran.

Upamecano termasuk di antara 12 pemain yang mengikuti sesi tersebut.

Selain dirinya, sejumlah nama seperti Eduardo Camavinga, Michael Olise, Jules Kounde, Maxence Lacroix, Manu Kone, Maghnes Akliouche, Andy Diouf, Jean Butez, Guillaume Restes, Estéban Lepaul dan Lucas Da Cunha juga ambil bagian.

Mereka menjalani latihan ringan yang lebih banyak bertujuan membangun suasana kebersamaan dan memperkenalkan metode kerja Zidane.

Menurut laporan L'Équipe, latihan dimulai dengan aktivitas penguasaan bola sebelum berlanjut ke berbagai latihan teknik. Sesi kemudian ditutup dengan permainan lima lawan lima di lapangan kecil. Zidane terlihat aktif memberikan dorongan kepada para pemain selama latihan.

Menariknya, suasana latihan tersebut disebut cukup berbeda karena beberapa pemain terlihat sedikit gugup ketika harus melakukan latihan teknik di depan pelatih baru mereka.

Hal tersebut cukup bisa dipahami.

Zidane bukan sekadar pelatih baru.

Ia adalah legenda sepak bola Prancis.

Ia merupakan bagian dari generasi yang membawa Les Bleus menjadi juara dunia pada 1998 dan juara Eropa dua tahun kemudian.

Kini, ia kembali ke Clairefontaine dalam kapasitas yang berbeda.

Upamecano Melihat Langsung Kualitas Zidane

Upamecano sudah memiliki pengalaman panjang sebagai pemain profesional.

Bek Bayern Munich tersebut juga telah menjadi bagian penting dari Timnas Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, pengalaman tersebut tidak mengurangi rasa kagumnya terhadap Zidane.

Ketika berbicara mengenai sesi latihan pertama, Upamecano justru tertawa saat membicarakan kemampuan teknis mantan pemain Real Madrid tersebut.

"Kami melakukan latihan teknik, dan kami melihat bahwa dia masih memiliki sedikit sisa kemampuan itu," ujar Upamecano sambil tersenyum.

Pernyataan tersebut tentu merujuk kepada kemampuan Zidane dalam mengontrol dan memainkan bola.

Ketika masih aktif, Zidane dikenal memiliki sentuhan pertama yang sangat halus, kontrol bola luar biasa, kemampuan melewati lawan, serta ketenangan ketika berada di bawah tekanan.

Bahkan setelah bertahun-tahun pensiun, kualitas teknik tersebut masih terlihat ketika ia ikut melakukan demonstrasi dalam latihan.

Upamecano bahkan mengakui bahwa sangat sulit bagi pemain modern untuk meniru apa yang mampu dilakukan Zidane dengan bola.

"Ini akan sulit untuk mengulangi apa yang mampu dilakukan Zidane secara teknis," kata bek Bayern tersebut.

Komentar itu sekaligus menggambarkan bagaimana status Zidane di mata para pemain Prancis.

Ia bukan hanya seorang pelatih.

Ia adalah figur yang memiliki pengalaman sebagai pemain, kapten, juara dunia, serta pelatih sukses di level klub.

Dari Idola Masa Kecil Menjadi Pelatih

Situasi yang dialami Upamecano juga mungkin dirasakan oleh banyak pemain Prancis lainnya.

Para pemain yang sekarang memperkuat Les Bleus tumbuh pada era ketika Zidane sudah menjadi salah satu simbol terbesar sepak bola dunia.

Bagi generasi tersebut, nama Zidane identik dengan Timnas Prancis.

Golnya pada final Piala Dunia 1998 melawan Brasil menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola Prancis.

Setelah itu, Zidane membangun reputasi besar bersama Real Madrid.

Ia kemudian kembali ke klub tersebut sebagai pelatih dan berhasil memenangkan tiga Liga Champions secara beruntun.

Sekarang, tantangan barunya jauh berbeda.

Zidane harus membangun kembali Timnas Prancis.

Ia tidak lagi bertugas mengontrol pertandingan dari lini tengah.

Ia harus mengontrol sebuah kelompok pemain dengan karakter, pengalaman, dan latar belakang berbeda.

Dan tugas pertama yang harus dilakukan adalah membangun hubungan dengan para pemain.

Zidane Tidak Langsung Membebani Pemain

Upamecano menjelaskan bahwa pertemuan pertama dengan Zidane tidak berlangsung seperti rapat taktik yang berat.

Sebaliknya, pertemuan tersebut lebih banyak digunakan untuk saling mengenal.

"Kami lebih banyak bertukar pikiran, kesempatan untuk saling mengenal karena kami tidak mengetahui nama semua orang. Dia juga menyampaikan program hari ini," ujar Upamecano.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Zidane memilih membangun suasana terlebih dahulu.

Ia tidak langsung datang dengan banyak tuntutan.

Ia mencoba mengenal pemain dan membuat mereka nyaman.

Bagi pelatih yang baru memasuki ruang ganti, pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi jarak antara dirinya dengan pemain.

Terlebih lagi, Zidane tidak perlu memperkenalkan dirinya sebagai legenda.

Semua pemain sudah mengetahui siapa dirinya.

Tantangannya sekarang adalah membuat mereka memahami Zidane sebagai seorang pelatih.

Pesan Pertama Zidane

Meski pertemuan awal lebih bersifat perkenalan, Zidane tetap menyampaikan pesan sederhana kepada para pemain.

Menurut laporan Goal, Zidane meminta pemain memberikan yang terbaik di lapangan.

Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi menjadi fondasi awal bagi era baru Les Bleus.

Tidak ada pernyataan bombastis.

Tidak ada janji mengenai gelar.

Zidane memulai dari hal paling mendasar: bekerja keras dan memberikan kemampuan terbaik.

Para pemain kemudian menjalankan sesi latihan tersebut dengan suasana yang positif.

Upamecano bahkan mengatakan bahwa mereka sangat menikmati sesi latihan.

"Saya sangat senang. Kami semua adalah penggemarnya sejak kecil dan sangat menyenangkan bisa belajar darinya," ujar Upamecano.

Upamecano Tidak Ingin Membandingkan Zidane dan Deschamps

Salah satu pertanyaan yang hampir pasti muncul ketika pelatih baru datang adalah perbandingan dengan pendahulunya.

Upamecano pun mendapatkan pertanyaan mengenai perbedaan Zidane dan Didier Deschamps.

Namun, pemain Bayern tersebut tidak ingin masuk terlalu jauh ke dalam perdebatan tersebut.

Ia justru memberikan penghormatan kepada Deschamps.

"Kami tidak akan masuk ke dalam perdebatan. Saya sangat senang memiliki dia sebagai pelatih. Didier Deschamps telah membuat saya berkembang dalam banyak hal," kata Upamecano.

Pernyataan tersebut cukup penting.

Deschamps memiliki sejarah panjang bersama Timnas Prancis.

Ia membawa Prancis menjadi juara dunia pada 2018 dan mencapai final Piala Dunia 2022.

Membandingkan keduanya sejak hari pertama tentu tidak akan memberikan banyak manfaat.

Upamecano memilih fokus pada era baru.

"Saya Masih Harus Banyak Belajar"

Meski sudah berusia 27 tahun dan memiliki pengalaman di level tertinggi, Upamecano mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

"Saya berusia 27 tahun, saya masih harus belajar banyak, saya terbuka terhadap saran, dan kami sangat senang dia ada di sini," ujar Upamecano.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana para pemain melihat kedatangan Zidane sebagai kesempatan belajar.

Zidane mempunyai pengalaman yang tidak dimiliki banyak pelatih.

Ia pernah bermain di final Piala Dunia.

Ia pernah memenangkan Liga Champions sebagai pemain.

Ia juga pernah memenangkan Liga Champions sebagai pelatih.

Ia mengetahui tekanan yang muncul ketika bermain untuk klub dan negara besar.

Bagi pemain seperti Upamecano, kesempatan mendapatkan pengetahuan langsung dari Zidane tentu sangat berharga.

Tantangan Berat Sudah Menunggu

Namun, suasana positif di sesi latihan tidak berarti pekerjaan Zidane akan mudah.

Les Bleus langsung menghadapi jadwal yang padat.

Prancis dijadwalkan menghadapi Turki pada 25 September dalam UEFA Nations League. Setelah itu mereka akan menghadapi rangkaian pertandingan internasional lain dalam periode akhir September hingga awal Oktober.

Artinya, Zidane tidak memiliki waktu berbulan-bulan untuk membangun tim.

Ia harus cepat memahami karakter para pemain.

Ia harus menentukan sistem yang sesuai.

Dan yang paling penting, ia harus menjaga keseimbangan antara warisan tim era Deschamps dengan pendekatan baru yang ingin diterapkannya.

Tantangan pertama adalah membuat pemain memahami ide permainan Zidane.

Tantangan berikutnya adalah menerapkannya dalam pertandingan kompetitif.

Skuad Prancis Penuh Bintang

Zidane juga mewarisi skuad yang memiliki banyak pemain berkualitas.

Upamecano sendiri menjadi salah satu pilihan penting di lini pertahanan.

Di lini tengah terdapat nama-nama seperti Eduardo Camavinga dan Manu Kone.

Michael Olise memberikan kreativitas dari sisi serangan.

Jules Kounde juga menjadi pemain penting dalam struktur pertahanan.

Di depan, Prancis memiliki pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe.

Situasi tersebut membuat tugas Zidane sekaligus menjadi menarik.

Ia tidak kekurangan kualitas pemain.

Justru tantangannya adalah bagaimana menggabungkan semua kualitas tersebut.

Pelatih harus menentukan siapa yang bermain, bagaimana mereka ditempatkan, dan bagaimana setiap pemain memahami tugasnya.

Zidane Membawa Aura yang Berbeda

Kehadiran Zidane juga membawa dimensi emosional yang berbeda bagi Timnas Prancis.

Ketika seorang legenda sepak bola nasional kembali sebagai pelatih, hubungan antara masa lalu dan masa kini terasa sangat kuat.

Lapangan latihan Clairefontaine menjadi tempat di mana generasi baru pemain Prancis bertemu dengan salah satu simbol terbesar sejarah sepak bola mereka.

Upamecano adalah contoh yang jelas.

Ketika masih kecil, ia mengidolakan Zidane.

Kini ia mendapatkan kesempatan untuk berlatih langsung di bawah arahan pemain yang dahulu ia saksikan melalui televisi.

Hal tersebut tentu bukan pengalaman biasa.

Dan Zidane tampaknya memahami bahwa aspek tersebut dapat menjadi salah satu kekuatannya dalam membangun ruang ganti.

Polemik Mbappe dan Dembele Tidak Ingin Disentuh Upamecano

Di tengah awal era Zidane, Timnas Prancis juga sedang menghadapi perbincangan mengenai Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele.

Keduanya termasuk dalam kandidat Ballon d'Or 2026.

Mbappe sebelumnya memberikan komentar dalam wawancara dengan France Football yang kemudian ditanggapi oleh Dembele.

Namun, Upamecano memilih tidak ikut campur.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin masuk ke dalam perdebatan tersebut.

"Kami tidak akan masuk ke dalam diskusi apa pun. Kami hanya berlatih dan menikmati waktu kami di sini. Lihat senyum saya, kami sangat menikmatinya," kata Upamecano.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa fokus awal skuad adalah sepak bola.

Mereka ingin beradaptasi dengan pelatih baru dan menjalani latihan.

Persoalan individual para pemain tidak ingin dibawa ke dalam suasana latihan.

Era Zidane Dimulai dengan Suasana Positif

Sesi latihan pertama tidak langsung memberikan gambaran bagaimana Prancis akan bermain di pertandingan resmi.

Namun, setidaknya ada satu hal yang terlihat jelas: para pemain menyambut kedatangan Zidane dengan antusias.

Mereka menghormatinya.

Mereka mengenal sejarahnya.

Dan mereka ingin belajar darinya.

Bagi Upamecano, pengalaman tersebut bahkan menjadi kesempatan untuk melihat langsung bahwa kemampuan teknis Zidane masih belum benar-benar hilang.

Kalimat bercanda mengenai "masih memiliki sedikit sisa" kemampuan menunjukkan suasana santai di dalam tim.

Namun, di balik suasana tersebut terdapat tugas yang sangat serius.

Zidane harus membawa Prancis memasuki fase baru.

Upamecano Bisa Menjadi Bagian Penting

Bagi Upamecano sendiri, era baru ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat posisinya.

Ia sudah memiliki pengalaman besar bersama Prancis dan Bayern Munich.

Sebagai bek tengah, ia akan menjadi salah satu pemain yang dibutuhkan Zidane untuk menjaga kestabilan lini belakang.

Prancis tidak hanya membutuhkan pemain kreatif.

Mereka juga membutuhkan bek yang mampu membangun permainan dari belakang.

Upamecano memiliki pengalaman dalam sepak bola level tinggi dan terbiasa bermain dalam tekanan.

Karena itu, kepercayaan yang ia tunjukkan kepada Zidane juga dapat menjadi modal penting bagi hubungan antara pemain dan pelatih.

Zidane Harus Membuktikan Diri Sekali Lagi

Sebagai pemain, Zidane sudah tidak perlu membuktikan apa pun.

Namanya telah menjadi bagian dari sejarah sepak bola Prancis.

Sebagai pelatih, situasinya berbeda.

Ia memang pernah meraih kesuksesan besar bersama Real Madrid.

Namun, melatih tim nasional memiliki tantangan tersendiri.

Tidak ada waktu latihan setiap hari seperti di klub.

Pemain datang dalam kondisi berbeda.

Jadwal pertandingan padat.

Dan setiap pertandingan internasional membawa tekanan besar.

Karena itu, keberhasilan Zidane bersama Prancis akan sangat bergantung pada kemampuannya menerjemahkan filosofi ke dalam waktu latihan yang terbatas.

Dari Sentuhan Zidane hingga Mimpi Besar Les Bleus

Untuk saat ini, para pemain Prancis tampaknya menikmati momen awal bersama sang pelatih baru.

Upamecano bahkan menjadi salah satu pemain yang paling jelas menunjukkan kekagumannya.

Ia melihat Zidane memegang bola.

Ia melihat kemampuan teknik sang legenda.

Dan ia menyadari bahwa meskipun sudah bertahun-tahun pensiun, Zidane masih mampu membuat para pemain profesional tersenyum kagum.

Tetapi setelah tawa dan kekaguman tersebut selesai, pekerjaan sebenarnya dimulai.

Zidane harus membentuk tim.

Ia harus menentukan identitas.

Ia harus mengelola pemain-pemain bintang.

Dan ia harus memastikan Prancis tetap menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola internasional.

Pertandingan melawan Turki pada 25 September akan menjadi salah satu ujian awal era tersebut.

Bagi Upamecano dan rekan-rekannya, pertandingan tersebut juga menjadi kesempatan pertama menerjemahkan latihan bersama Zidane ke dalam pertandingan resmi.

Untuk sementara, mereka menikmati prosesnya.

Mereka belajar dari sang legenda.

Dan Upamecano telah memberikan gambaran menarik tentang apa yang terjadi ketika salah satu ikon terbesar sepak bola Prancis kembali ke lapangan latihan.

Zidane mungkin sudah lama meninggalkan lapangan sebagai pemain.

Namun, seperti yang disaksikan Upamecano secara langsung, sentuhan magis itu ternyata belum sepenuhnya hilang.

Kini, tantangannya bukan lagi membuat bola menari di kakinya.

Tantangannya adalah membuat seluruh Timnas Prancis menari mengikuti irama permainan yang ia inginkan.