Wayne Rooney ternyata belum sepenuhnya menutup pintu untuk kembali ke dunia kepelatihan. Namun, jika suatu hari mantan kapten tim nasional Inggris itu benar-benar kembali berdiri di pinggir lapangan sebagai manajer, pilihannya sangat terbatas.
Rooney mengungkap hanya ada dua klub yang mampu membuatnya mempertimbangkan kembali karier sebagai pelatih. Dua klub tersebut adalah Manchester United dan Everton, dua tim yang memiliki tempat sangat penting dalam perjalanan kariernya sebagai pemain.
Pernyataan tersebut disampaikan Rooney ketika berbicara di Virgin Radio. Ia ditanya mengenai kemungkinan kembali ke dunia manajerial setelah beberapa pengalaman yang cukup berat dalam karier kepelatihannya.
Jawabannya cukup mengejutkan.
Rooney mengatakan bahwa dirinya meragukan akan kembali melatih. Namun, jika ada satu kondisi yang bisa membuatnya berubah pikiran, itu adalah kesempatan menangani Everton atau Manchester United.
"Satu-satunya cara saya akan kembali dalam kapasitas apa pun adalah di Everton atau Manchester United. Tapi itu sangat kecil kemungkinannya," ujar Rooney seperti dikutip Goal.
Ketika kemudian ditanya klub mana yang akan lebih dahulu ia pilih jika dua pekerjaan tersebut tersedia, Rooney memberikan jawaban singkat sekaligus bercanda.
"Yang datang lebih dulu!"
Jawaban tersebut langsung menarik perhatian karena memperlihatkan bahwa meski saat ini Rooney menikmati kehidupannya sebagai pundit, masih ada dua pekerjaan yang memiliki daya tarik khusus baginya.
Namun, pernyataan tersebut bukan berarti Rooney sedang mengincar salah satu kursi manajer tersebut. Ia justru berulang kali menekankan bahwa kemungkinan dirinya kembali melatih masih sangat kecil.
Empat Pengalaman yang Tidak Mudah
Keputusan Rooney untuk lebih berhati-hati bukan tanpa alasan.
Mantan striker Manchester United itu sudah menjalani empat pekerjaan sebagai pelatih atau manajer, tetapi perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung sesuai harapan.
Ia memulai karier manajerialnya di Derby County.
Pada saat itu, Rooney mengambil alih klub dalam situasi yang sangat sulit. Derby menghadapi persoalan finansial dan akhirnya harus terdegradasi dari Championship. Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses Rooney belajar sebagai seorang manajer.
Setelah itu, ia mencoba tantangan baru di Amerika Serikat dengan menangani DC United.
Rooney kemudian kembali ke Inggris untuk menjadi manajer Birmingham City. Akan tetapi, periode tersebut berlangsung singkat dan berakhir setelah performa tim tidak sesuai harapan.
Pekerjaan terakhirnya adalah bersama Plymouth Argyle.
Rooney ditunjuk sebagai manajer Plymouth pada 2024, tetapi masa kerjanya kembali berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Ia kemudian meninggalkan klub tersebut pada akhir 2024.
Sejak saat itu, Rooney belum kembali mengambil pekerjaan sebagai manajer.
Sebaliknya, ia menemukan jalur baru di dunia media.
Rooney Kini Menikmati Kehidupan sebagai Pundit
Setelah meninggalkan Plymouth, Rooney mulai lebih aktif bekerja sebagai analis sepak bola.
Ia menjadi salah satu pundit yang rutin tampil di berbagai program sepak bola Inggris, termasuk Match of the Day. Ia juga terlibat dalam proyek bersama Gary Neville melalui jaringan The Overlap.
Bagi Rooney, pekerjaan tersebut memberikan jenis pengalaman yang berbeda.
Sebagai pemain, ia sudah terbiasa dengan jadwal pertandingan, latihan, perjalanan, dan tekanan untuk tampil. Sebagai manajer, tekanan tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Seorang manajer bukan hanya bertanggung jawab terhadap performa di lapangan.
Ia juga harus mengelola ruang ganti, menentukan staf, merancang strategi, menghadapi media, berkomunikasi dengan pemilik klub, serta menghadapi konsekuensi ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
Rooney kini melihat sisi lain dari pekerjaan tersebut.
Menurutnya, salah satu perbedaan terbesar antara menjadi pemain dan menjadi manajer adalah kepastian mengenai masa depan.
Ketika masih menjadi pemain, seseorang bisa memiliki gambaran lebih jelas mengenai kapan kariernya akan berakhir.
Sebaliknya, seorang manajer bisa kehilangan pekerjaan kapan saja.
"Saya pikir Anda tahu sebagai pemain kapan karier Anda akan berakhir dan Anda bisa mempersiapkan diri untuk itu. Jadi tahap berikutnya dalam kepelatihan, Anda tidak tahu apakah Anda akan berada di sana selama satu tahun, dua tahun, 10 tahun atau tiga bulan," kata Rooney.
Karena itulah ia mengakui bahwa ada kemungkinan dirinya tidak akan pernah kembali menjadi manajer.
Rooney mengatakan dirinya sedang menikmati pekerjaan sebagai pundit dan ingin terus belajar serta menjadi lebih baik dalam peran tersebut.
Manchester United Tetap Istimewa
Dari dua klub yang disebut Rooney, Manchester United tentu memiliki hubungan yang sangat kuat dengan dirinya.
Rooney bergabung dengan United pada 2004 setelah meninggalkan Everton. Selama 13 musim di Old Trafford, ia berkembang menjadi salah satu pemain terpenting dalam sejarah modern klub tersebut.
Ia mencatatkan 253 gol di semua kompetisi untuk Manchester United dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub sebelum rekornya kemudian tetap menjadi bagian dari sejarah United.
Rooney juga memenangkan lima gelar Premier League bersama klub.
Ia mengangkat trofi Liga Champions pada 2008 dan meraih berbagai gelar domestik lainnya.
Hubungannya dengan Manchester United bukan hanya soal jumlah trofi atau gol.
Rooney datang sebagai pemain muda dari Everton dan kemudian berkembang menjadi salah satu wajah utama klub.
Karena itu, jika suatu hari ia benar-benar kembali ke Old Trafford sebagai manajer, situasinya tentu akan menjadi sangat berbeda dibandingkan ketika ia masih bermain.
Ia tidak lagi menjadi pemain yang mengejar bola.
Ia akan menjadi sosok yang menentukan arah tim dari pinggir lapangan.
Namun untuk saat ini, Rooney tidak mengatakan bahwa hal tersebut sedang dalam proses.
Ia hanya menyebut Manchester United sebagai salah satu dari dua klub yang secara khusus bisa membuatnya mempertimbangkan comeback.
Everton Punya Cerita yang Berbeda
Klub lainnya adalah Everton.
Hubungan Rooney dengan Everton bahkan sudah dimulai jauh sebelum Manchester United.
Ia merupakan produk akademi Everton dan membuat debut Premier League ketika masih berusia 16 tahun.
Momen yang membuat namanya dikenal luas terjadi pada Oktober 2002 ketika Rooney mencetak gol spektakuler melawan Arsenal. Gol tersebut menjadi salah satu momen penting dalam awal kariernya.
Rooney kemudian meninggalkan Everton untuk Manchester United pada 2004.
Namun hubungan tersebut tidak pernah benar-benar terputus.
Pada 2017, Rooney kembali ke Goodison Park.
Ia bermain satu musim untuk Everton dan mencetak 10 gol dalam Premier League 2017/18 sebelum kemudian melanjutkan kariernya di Amerika Serikat bersama DC United.
Karena itu, Everton juga memiliki nilai emosional yang sangat besar bagi Rooney.
Jika suatu hari kursi manajer Everton terbuka dan Rooney mendapatkan tawaran tersebut, klub masa kecilnya itu termasuk salah satu pekerjaan yang menurut pengakuannya bisa membuatnya berpikir ulang.
Namun lagi-lagi, Rooney menegaskan bahwa peluang tersebut masih jauh dari kepastian.
"Yang Datang Lebih Dulu"
Jawaban Rooney mengenai Everton atau Manchester United juga menjadi bagian paling menarik dari wawancara tersebut.
Ketika ditanya mana yang akan ia pilih, ia tidak memberikan jawaban serius.
"The one that comes first!" atau "Yang datang lebih dulu!"
Ucapan tersebut disampaikan dengan nada bercanda.
Tetapi di balik candaan itu terdapat sebuah pesan yang cukup jelas.
Rooney tidak menutup kemungkinan menangani salah satu dari dua klub tersebut.
Ia juga tidak mengatakan bahwa salah satu klub lebih penting daripada yang lainnya.
Everton adalah klub masa kecilnya.
Manchester United adalah klub tempat ia menghabiskan sebagian besar kariernya dan meraih berbagai gelar besar.
Keduanya memiliki sejarah yang berbeda dalam kehidupan Rooney.
Karena itu, jika suatu saat kesempatan tersebut benar-benar muncul, keputusan Rooney akan menjadi salah satu cerita menarik dalam sepak bola Inggris.
Mengapa Rooney Tidak Terburu-buru?
Ada alasan mengapa Rooney tampak tidak terburu-buru kembali ke dunia kepelatihan.
Sebagai pundit, ia dapat tetap dekat dengan sepak bola tanpa harus menghadapi tekanan harian seorang manajer.
Ia bisa menganalisis pertandingan, berbicara mengenai taktik, mendiskusikan pemain, dan membagikan pengalamannya tanpa harus bertanggung jawab terhadap hasil akhir sebuah tim.
Sebagai manajer, situasinya sangat berbeda.
Satu hasil buruk dapat memunculkan pertanyaan tentang masa depan.
Serangkaian kekalahan dapat meningkatkan tekanan dari suporter.
Sementara keputusan transfer, taktik, pemilihan pemain, hingga hubungan dengan pemilik klub semuanya dapat memengaruhi masa kerja seorang pelatih.
Rooney sudah merasakan sebagian dari tekanan tersebut dalam empat pekerjaan sebelumnya.
Karena itu, keputusan untuk mengambil waktu lebih lama sebelum kembali merupakan sesuatu yang ia pertimbangkan sendiri.
Ia bahkan mengakui ada kemungkinan dirinya tidak akan pernah kembali menjadi manajer.
Bagi seorang mantan pemain dengan reputasi sebesar Rooney, pengakuan tersebut cukup menarik.
Banyak mantan pemain besar tetap mengejar karier kepelatihan meski mengalami kegagalan pada pekerjaan awal.
Rooney justru mengambil jalan berbeda.
Ia memilih menikmati kesempatan baru sebagai analis.
Masa Depan Rooney Masih Terbuka
Meskipun Rooney mengatakan kemungkinan kembali melatih sangat kecil, pernyataannya juga menunjukkan bahwa pintu tersebut tidak benar-benar tertutup.
Manchester United dan Everton menjadi pengecualian.
Artinya, jika suatu saat salah satu klub tersebut datang dengan tawaran, Rooney setidaknya akan mempertimbangkannya.
Ini berbeda dengan mengatakan bahwa Rooney sedang mencari pekerjaan sebagai manajer.
Tidak ada indikasi dari pernyataannya bahwa ia tengah melakukan negosiasi dengan salah satu klub.
Untuk sekarang, ia masih menikmati peran sebagai pundit.
Rooney bahkan mengatakan bahwa dirinya ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk terus belajar.
Pengalaman sebagai manajer tentu tetap menjadi modal berharga.
Ia pernah menangani Derby, DC United, Birmingham City, dan Plymouth. Masing-masing pengalaman memberikan pelajaran yang berbeda.
Kegagalan di beberapa klub tidak menghapus pemahamannya mengenai sepak bola.
Sebagai pemain, Rooney memiliki pengalaman bermain di level tertinggi selama bertahun-tahun.
Ia bermain bersama dan melawan banyak pemain terbaik dunia.
Ia bekerja di bawah sejumlah manajer besar.
Ia juga memahami tekanan yang dirasakan pemain di ruang ganti.
Semua pengalaman tersebut bisa menjadi bekal jika suatu hari ia kembali ke dunia kepelatihan.
Namun kapan hal tersebut terjadi masih menjadi pertanyaan.
Bukan Soal Uang
Rooney juga menjelaskan bahwa pekerjaannya sekarang bukan semata-mata dilakukan demi mendapatkan penghasilan.
Ia mengatakan dirinya melakukan pekerjaan tersebut karena memiliki tujuan dan ingin tetap produktif.
"Saya tidak melakukannya demi uang, saya melakukannya karena sebuah tujuan daripada hanya berada di rumah sepanjang hari," ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan fase baru dalam kehidupannya.
Rooney tidak lagi mengejar pertandingan setiap pekan sebagai pemain.
Ia juga tidak sedang terburu-buru mendapatkan kursi manajer.
Sebaliknya, ia mencoba menikmati tahap berikutnya dalam kariernya.
Dunia televisi memberinya kesempatan untuk tetap terlibat dalam sepak bola tanpa menghadapi seluruh tekanan yang melekat pada pekerjaan manajer.
Namun, dua klub masih memiliki daya tarik khusus.
Everton dan Manchester United.
Dua nama yang mewakili dua bagian terbesar dalam perjalanan Rooney sebagai pemain.
Comeback yang Masih Menjadi Kemungkinan
Pada akhirnya, masa depan Wayne Rooney sebagai pelatih masih belum dapat dipastikan.
Ia sudah pernah mengatakan bahwa kemungkinan kembali melatih sangat kecil.
Namun kali ini ia memberikan pengecualian yang sangat jelas.
Jika Everton atau Manchester United membutuhkan manajer dan kesempatan tersebut benar-benar datang, Rooney mengaku dua pekerjaan itu bisa membuatnya mempertimbangkan kembali.
Bahkan ketika diminta memilih di antara keduanya, ia memilih jawaban yang sederhana:
klub yang datang lebih dulu.
Untuk sementara, Rooney masih akan menjalani kehidupannya sebagai pundit.
Ia menikmati Match of the Day, bekerja dalam berbagai proyek media, dan menggunakan pengalaman barunya untuk terus belajar.
Namun sepak bola Inggris kini mengetahui satu hal penting.
Pintu karier kepelatihan Wayne Rooney memang hampir tertutup.
Tetapi masih ada dua kunci yang bisa membukanya kembali.
Satu berasal dari Goodison Park.
Satu lagi berasal dari Old Trafford.
Dan jika salah satunya benar-benar mengetuk pintu pada waktu yang tepat, Rooney belum sepenuhnya menolak untuk kembali berdiri di pinggir lapangan.
