MUNICH – Bayern Munich kembali menjadi sorotan setelah Axel Kahn, kakak legenda sekaligus mantan CEO klub, Oliver Kahn, melontarkan kritik terhadap dinamika internal raksasa Bundesliga tersebut. Dalam wawancara dengan media Jerman Abendzeitung, Axel menyinggung budaya pertikaian di lingkungan klub serta struktur kepemimpinan yang menurutnya masih sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh berpengaruh.
Pernyataan itu sekaligus membuka kembali pembicaraan mengenai berakhirnya masa jabatan Oliver Kahn di Bayern pada Mei 2023. Meski sudah lebih dari tiga tahun berlalu, kepergian mantan penjaga gawang tim nasional Jerman tersebut masih menjadi bagian dari diskusi mengenai pengelolaan klub tersukses di Jerman itu.
Axel menilai perselisihan internal bukanlah fenomena baru di Bayern. Ia bahkan mengaitkan situasi tersebut dengan kondisi yang kini dihadapi Max Eberl, anggota dewan direksi yang bertanggung jawab atas urusan olahraga klub.
Menurut Axel, mekanisme internal Bayern membuat sejumlah petinggi harus terus menjelaskan dan mempertahankan keputusan mereka di tengah perhatian besar dari berbagai pihak. Ia menilai kondisi semacam itu masih terlihat hingga sekarang, meskipun klub memiliki rekam jejak prestasi yang sangat kuat.
Axel Kahn Kembali Menyinggung Dinamika Internal Bayern
Oliver Kahn merupakan salah satu figur paling ikonik dalam sejarah Bayern Munich. Setelah mengakhiri kariernya sebagai pemain, ia kembali ke klub dalam kapasitas manajemen pada 2020. Setahun kemudian, ia menggantikan Karl-Heinz Rummenigge sebagai ketua dewan direksi.
Namun, perjalanan Kahn sebagai petinggi klub tidak berlangsung mulus. Setelah musim 2022/2023 yang penuh gejolak, Bayern memutuskan mengakhiri kerja sama dengannya pada Mei 2023. Hasan Salihamidzic, yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga, juga meninggalkan klub pada periode yang sama.
Keputusan tersebut diumumkan menjelang akhir musim, ketika Bayern akhirnya memastikan gelar Bundesliga setelah persaingan ketat dengan Borussia Dortmund. Perpisahan itu menjadi salah satu episode paling banyak dibicarakan dalam sejarah modern klub.
Kini, Axel memberikan pandangannya mengenai pengalaman sang adik. Ia mengatakan bahwa Oliver telah menerima apa yang terjadi dan tidak terus-menerus terbebani oleh akhir masa jabatannya di Bayern.
“Oliver sudah berdamai dengan hal itu. Tidak ada yang tertinggal. Gen Kahn akan mengatasinya,” ujar Axel, sebagaimana dikutip dari wawancaranya dengan Abendzeitung.
Axel kemudian melontarkan komentar bernada humor mengenai kemampuan keluarga mereka menghadapi kesulitan. Menurutnya, bangkit dan melanjutkan hidup merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Oliver.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keluarga Kahn berusaha memandang perpisahan dengan Bayern sebagai bagian dari perjalanan karier, meskipun keputusan itu sebelumnya sempat memicu perhatian luas di dunia sepak bola Jerman.
Max Eberl Ikut Menjadi Sorotan
Dalam wawancara yang sama, Axel menyoroti situasi Max Eberl. Ia menilai petinggi Bayern tersebut kerap harus menjelaskan berbagai keputusan dan mempertahankan posisinya di tengah sorotan publik.
“Di Bayern, pertikaian internal seperti ini memang selalu ada. Sekarang pun kita terus melihatnya dalam kasus Max Eberl. Rasanya ia harus menjelaskan segala hal dan mempertahankan posisinya, meski rekam jejaknya cukup bersih, atau lebih tepatnya, pekerjaannya berhasil,” kata Axel.
Komentar itu memperlihatkan pandangannya bahwa tekanan terhadap para petinggi Bayern bukan semata-mata berkaitan dengan hasil pertandingan. Struktur kekuasaan dan hubungan di antara figur-figur penting klub juga dapat memengaruhi suasana kerja di tingkat manajemen.
Bayern merupakan klub dengan tuntutan prestasi yang sangat tinggi. Sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa, mereka dituntut mempertahankan dominasi domestik sekaligus bersaing dalam kompetisi kontinental. Situasi tersebut membuat keputusan mengenai transfer pemain, pergantian pelatih, dan arah strategis klub selalu mendapat perhatian besar.
Dalam lingkungan seperti itu, perbedaan pendapat di tingkat manajemen bisa berkembang menjadi persoalan yang menarik perhatian media. Pernyataan Axel menunjukkan bahwa, menurut pandangannya, dinamika tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru di Bayern.
Meski demikian, komentarnya tidak dengan sendirinya membuktikan adanya konflik tertentu yang sedang berlangsung. Pernyataan tersebut lebih mencerminkan penilaian pribadi Axel terhadap cara kerja dan budaya kepemimpinan klub.
Uli Hoeneß Disebut Masih Memegang Pengaruh Besar
Bagian paling mencolok dari pernyataan Axel adalah komentarnya mengenai Uli Hoeneß, tokoh sentral dalam perjalanan Bayern selama beberapa dekade.
“Pada akhirnya, Uli Hoeneß selalu punya keputusan terakhir. Namun, klub apa yang sedang kita bicarakan ini? Klub tersukses di dunia. Di sana, kepemimpinan adalah kemampuan yang paling utama,” ujar Axel.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi besarnya pengaruh Hoeneß dalam struktur dan tradisi Bayern. Hoeneß telah lama menjadi salah satu figur paling berpengaruh di klub, baik ketika menjalankan tugas eksekutif maupun saat terlibat dalam pengawasan dan arah strategis organisasi.
Komentar Axel dapat dibaca sebagai sindiran ringan terhadap pola pengambilan keputusan di Bayern. Ia menyinggung bahwa pengaruh figur senior masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah klub, termasuk ketika para petinggi lain harus mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka.
Di sisi lain, Axel juga mengakui status Bayern sebagai klub dengan prestasi luar biasa. Baginya, memimpin organisasi sebesar Bayern membutuhkan kemampuan khusus, terutama karena ekspektasi terhadap hasil dan pengelolaan klub sangat tinggi.
Pernyataan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa Hoeneß menjadi penyebab setiap persoalan internal. Namun, komentar tersebut kembali mengangkat perdebatan mengenai keseimbangan antara pengaruh tokoh senior dan kewenangan para eksekutif yang menjalankan tugas sehari-hari.
Oliver Kahn Berpeluang Kembali ke Dunia Sepak Bola
Selain membahas Bayern, Axel juga berbicara mengenai kemungkinan Oliver kembali bekerja di dunia sepak bola profesional. Ia tidak menutup peluang tersebut, meskipun menyarankan sang adik untuk mempertimbangkan kehidupan di luar tekanan industri sepak bola.
Menurut Axel, Oliver masih berusia 57 tahun dan secara teori dapat mempertimbangkan tawaran pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan serta ambisinya.
“Jika ada tawaran pekerjaan yang cocok untuknya dan menurutnya bisa ia jalankan dengan sukses, ia pasti akan mempertimbangkannya,” ujar Axel.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa peluang kembalinya Oliver ke jabatan manajemen klub belum sepenuhnya tertutup. Namun, hingga kini tidak ada kepastian bahwa ia sedang menjalani negosiasi untuk posisi tertentu.
Oliver memiliki pengalaman panjang sebagai pemain elite sebelum beralih ke dunia manajemen. Sebagai penjaga gawang, ia meraih berbagai gelar bersama Bayern dan menjadi salah satu figur penting tim nasional Jerman. Pengalaman tersebut membuatnya memiliki reputasi besar dalam sepak bola Eropa.
Meski demikian, pengalaman sebagai pemain tidak selalu membuat pekerjaan di tingkat eksekutif menjadi mudah. Tugas manajemen menuntut kemampuan mengelola hubungan internal, mengambil keputusan strategis, serta menghadapi tekanan dari suporter, media, dan pemangku kepentingan klub.
Axel mengakui bahwa sisi tersebut menjadi alasan dirinya tidak serta-merta mendorong sang adik kembali ke industri sepak bola.
Tekanan dan Uang Besar di Sepak Bola Modern
Axel juga menyampaikan pandangan kritis mengenai perkembangan bisnis sepak bola. Ia menilai industri tersebut semakin berorientasi pada hasil instan dan perputaran uang dalam jumlah besar.
Menurutnya, tuntutan untuk segera meraih kesuksesan dapat menimbulkan tekanan berat bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Ia pun mempertanyakan apakah Oliver perlu kembali menghadapi lingkungan seperti itu setelah pengalaman terakhirnya di Bayern.
Axel menilai semakin bertambah usia seseorang, tekanan mental dari pekerjaan dengan tuntutan tinggi dapat terasa semakin berat. Karena itu, ia lebih memilih menyarankan sang adik menikmati kehidupan di luar dunia sepak bola, meskipun tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya tawaran yang benar-benar sesuai.
Pernyataan Axel menjadi pengingat bahwa tekanan dalam sepak bola modern tidak hanya dirasakan pemain dan pelatih. Para eksekutif klub juga menghadapi tuntutan besar, terutama ketika bekerja untuk organisasi yang terbiasa mengejar gelar dan hasil maksimal.
Bagi Bayern Munich, komentar tersebut kembali menempatkan budaya internal klub dalam sorotan. Sementara itu, masa depan Oliver Kahn masih terbuka, meskipun belum ada kepastian bahwa ia akan kembali menduduki jabatan penting di dunia sepak bola.
Untuk saat ini, pandangan Axel memperlihatkan dua hal sekaligus: ia tidak menganggap pengalaman Oliver di Bayern sebagai sesuatu yang harus terus disesali, tetapi juga tidak menutup mata terhadap kerasnya industri yang mungkin kembali dimasuki sang adik.
